,

Mengajarkan Literasi (Baca, Tulis, dan Berhitung); Mulai Kapan?

Mengajarkan Literasi (Baca, Tulis, dan Berhitung); Mulai Kapan?

Ada proses panjang untuk mengenalkan literasi kepada anak. Literasi yang dimaksud adalah kemampuan anak dalam berbahasa dan berhitung. Kemampuan bahasa ini meliputi membaca, menulis, dan berkomunikasi. Keterampilan ini perlu disampaikan perlahan dan sejak anak pada usia balita.

Kapan waktu yang pas untuk mengenalkan hal ini? Membaca dan menulis bisa dikenalkan setiap hari. Lalu, dari mana memulainya? Tunjukkan kepada buah hati Anda bahwa aktivitas membaca dan menulis adalah bagian dari aktivitas yang menyenangkan dan seru. Caranya dengan menyisipkan atau mengiringi aktivitas permainan mereka, dengan membaca. Kartu baca yang berisi ilustrasi gambar dan kata bisa ditunjukan kepada anak di usia 2—3 tahun.

Sebelum sampai pada belajar membaca dan menulis, sesungguhnya ada proses panjang untuk menyampaikan dua hal ini pada anak. Yang paling ideal, pengkondisian bisa diawali dengan membacakan dongeng bergambar ketika anak di bawah usia satu tahun. Kegiatan ini diupayakan dilakukan dengan rutin hingga anak merasa terbiasa mendengarkan bacaan dongeng dari orangtuanya.

Semakin banyak anak mendengarkan cerita, kemampuan bahasa dan komunikasi akan berkembang. Kata baru dan istilah baru akan dijumpai, hingga lambat laun minat dan kesukaan kepada buku akan terbangun sendirinya.

Faktor pendukung lain di dalam lingkungan rumah adalah adanya rak buku atau perpustakaan mini yang terlihat dan bisa dijangkau oleh anak. Pengkondisian ini perlu juga diikuti kebiasaan orangtua membaca buku. Dengan memberikan contoh dan kebiasaan membaca buku harapannya anak akan meniru kedua orangtuanya. Ya, kuncinya adalah aktivitas membaca perlu dirangsang dari lingkungan.

Sebaliknya, perkara tradisi membaca dari lingkungan rumah menjadi tidak mudah ketika kedua orangtuanya tidak mendukung hal ini. Terlebih lagi adanya gadget, baik sadar maupun tidak lebih disodorkan kepada anak. Bermain games dan melihat YouTube menjadi lebih menarik bagi anak. Inilah kendala bagi orangtua pada masa kini. Maka, pilihan dan peraturan penggunaan gadget atau komputer untuk anak pun perlu diawasi.

Terkait hal ini sepertinya orangtua Indonesia perlu meniru Bill Gates. CEO dermawan yang membidani lahirnya Microsoft, melarang anak mereka memegang handphone sebelum usia 14 tahun. Almarhum Steve Jobs sebagai pendiri Apple Inc juga mengambil sikap serupa; melarang anak-anaknya menggunakan Ipad.

Manfaat membaca dan menulis kelak akan dituai tidak hanya di sekolah, tetapi kelak ketika mereka dewasa dan menua. Aktivitas membaca dan menulis tidak bisa lepas ketika mereka lulus sekolah. Dalam aktivitas bekerja dan mengembangkan diri, membaca dan menulis selalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca dan menulis sebagai “asupan gizi” ilmu untuk menambah wawasan dan menjaga simpul saraf otak tetap aktif hingga terhindar dari kepikunan.

Faktor motivasi dan dukungan orangtua sangat menentukan perkembangan keterampilan literasi anak. Dukungan berupa fasilitas seperti buku dan alat tulis juga amatlah penting. Sekadar referensi, sebagai buku latihan untuk anak usia pra-sekolah dalam belajar baca, orangtua bisa memanfaatkan buku “Aku Pintar Baca Tulis Hitung” dan“Membaca Menulis Huruf Angka dan Kata”. Buku ini menyampaikan banyak hal seputar alfabet, kata, dan gambar. Selain itu tahapan belajar menggenal garis, gambar, dan cerita ada dalam buku terbitan Cikal Aksara ini.

aku-pintar-baca-tulis-hitung1Sedangkan untuk referensi belajar berhitung, Cikal Aksara telah menebitkan buku “Matematika untuk PAUD”. Dalam buku ini disusun sesuai dengan perkembangan belajar angka, berlatih penjumlahan, pengurangan, dan prinsip dasar waktu. Agar tidak membosankan buku ini dijeda dengan aktivitas menggambar dan mewarnai yang dapat mengoptimalkan kreativitasnya.

Nah, kelak ketika anak-anak mulai bisa membaca sendiri, tidak hanya buku pelajaran yang biasa mereka sanding. Cerita-cerita seru dan petualangan yang bermuatan pesan kebaikan dan moral bisa mereka simak sendiri. Dongeng tidak lagi mereka dengarkan lewat telinga mereka, tetapi bisa mereka simak lewat kata, paragraf, dan lembaran cerita seru yang dipindai dari kedua mata buah hati Anda.

Biarkan anak membaca sendiri, berteman buku-buku. Lalu ajaklah mereka bercerita ulang apa isi buku tersebut.

 

Salam literasi.

 

foto dari unsplash.com